Aku, adalah pengidap HIV akut di usiaku yang merangkak ke angka 16. Dokter manapun sudah memvonisku bahwa takkan lama lagi masa-masa remajaku akan berakhir. Tak ada waktu untuk mengejar semua yang telah kusiakan. Ini semua berawal dari kesalahan terbesarku. Dosa terindah yang perlahan mematikan ragaku. Pahitnya itu, kutelan sendiri. Duniaku yang begitu gelap, pekat. Lebih pekat dari segelas kopi panas atau lebih menyakitkan dibanding apapun. Tak pernah kusangka sebelumnya, kalau semuanya akan berakhir dengan cara yang siapapun pasti tak pernah menginginkannya.
Sejak 2 tahun lalu,Aku seorang pecandu berat psikotropika. Berbagai jenis obat-obatan telah bersarang dalam tubuhku yang tanpa kusadari, benda yang kuanggap sebagai sahabatku itu telah membunuhku secara perlahan. Entah bagaimana awalnya hingga aku mengidap penyakit ini. Namun yang pasti, dulu aku sering bertukar jarum suntik dengan teman-teman yang senasib dengan diriku. Sekarang, apa yang kudapatkan dari perbuatanku? Aku kehilangan masa remajaku. Masa yang penuh dengan gejolak. Masa yang penuh dengan keindahan, cinta dan persahabatan juga kebahagiaan. Harusnya aku bisa merasakan itu semua di hidupku. Tak mungkin kuteruskan mimpi-mimpi konyol itu. Sementara, sebentar lagi malaikat maut akan segera menjemput paksa diriku.
Terlebih, saat keluargaku ayah ,ibu dan semuanya mengetahui hal ini. Mereka mengasingkanku dari dunia, menjadikanku sampah seolah-olah aku memang patut dienyahkan. Sampai sekarang, aku selalu takut kalau-kalau saja ayah menemukanku dan akan membunuhku dengan belatinya yang tajam itu. Aku menyayangi keluargaku, namun aku juga membenci mereka. Andai saja mereka tak memaksaku menuruti semua kemauan mereka yang berlebihan, aku juga mungkin tak akan menjadi seperti yang sekarang. Ini salah ayah dan ibu. Mereka telah membuatku menderita. Kalau aku tahu akan seperti ini takdirku, aku memilih untuk tidak pernah dilahirkan sama sekali.
Di sebuah rumah kost di pinggiran kota, di kawasan sepi penghuni. Disitulah diriku tinggal. Thiery yang membawaku ke tempat itu. Awalnya, dari sebuah ketidaksengajaan , aku berjalan menyusuri sepanjang rel kereta. Aku berharap saat itu akan ada yang menarik ragaku melayang sebebas-bebasnya. Tapi tiba-tiba saja seorang menarik bajuku dari belakang. Dan aku melihat gadis berkacamata itu tersenyum memandangku. Thiery adalah teman SMPku. Teman? Mungkin itu perlu dipertanyakan, karena sepanjang perjalanan hidupku aku tak pernah mempunyai seorang teman. Dan sejak SMP Thiery lah satu-satunya orang yang cukup berani mendekatiku, karena sejak dulu aku memang dikenal sebagai gadis yang cuek, acuh tak acuh dan tidak pandai bergaul. Sifatku yang tertutup dan misterius mungkin itu juga yang menjadi factor utama orang-orang menjauhiku.
Thiery gadis yang baik, setelah aku benar-benar mnengenalnya. Thiery lah yang membuatku sadar dan dia juga yang sudah membiayai semua pengobatan selama aku dirawat di panti rehabilitasi khusus bagi pecandu dan pederita AIDS. Tak heran, Thiery gadis cantik dan berlimpah materi. Hal itu tak membuatnya buta untuk memanfaatkan masa remajanya yang hampir tanpa celah itu. Aku tahu Thiery sudah banyak berkorban untuk diriku. Dia selalu menganggapku sebagai sahabatnya. Meskipun selama ini aku mngacuhkan dirinya. Thiery selalu menemaniku, mengajakku jalan-jalan dan bersenang-senang. Dia selalu menunjukkan padaku betapa indah dunianya yang suci itu. Thiery selalu menceritakan masa remajanya yang jelas saja itu membuatku tersinggung.
“Sebenarnya apa maksud kamu ? Kamu ingin membandingkan kehidupanku dengan kehidupan kamu yang sempurna itu? Bukan gini caranya kalau kamu mau mencemoohku secara tidak langsung!”
“Kamu salah Talia, apa yang aku lakukan ini tulus hanya untuk membuatmu mengerti, kita ada di posisi yang sama. Kita sebagai remaja, remaja yang belajar tentang siapa jati diri kita. Dan aku sebagai perantara untuk membantumu menemukan apa yang kau cari…Masih ada sahabat untuk kamu, Talia.” Kalimat itu seakan menusuk pikiranku. Membuatku benar-benar mengerti tentang sebuah kesalahan yang tak mungkin terhapuskan. Aku sudah melewatkan banyak hal, melewatkan dunia yang begitu indah. Meninggalkan mereka, yang ingin menjadi sahabatku. Menjauh dari cinta dan cerita.
Semakin hari, aku semakin merasakan perubahan yang drastis pada tubuhku. Tubuh yang semakin kurus, pucat dan lemah. Itulah aku sekarang. Dan disaat itu pulalah, aku melihat senyum Thiery mengembang di setiap sudutnya saat dia berusaha menghiburku. Senyumannya selalu bisa membuatku tegar. Thiery selalu saja bisa menghilangkan semua keluhku. Apapun yang kurasa, Thiery juga merasakan hal yang sama.
Kami adalah dua orang yang tak pernah terpisahkan. Seolah aku tak pernah memikul sebuah derita. Bersama Tiery ,aku merasakan sedikit beban itu berkurang dari pundakku. Thiery lah yang membantu memikulnya. Dan perlahan, hatiku mulai terbuka. Aku baru saja menyadari, ada hal indah di luar sana yang sering sekali kulewati. Ketika aku masih duduk di bangku sekola. Bergurau kesana kemari. Bersama banyak teman-teman yang mengisi tiap hari-hari itu. Dan aku mengerti. Betapa naifnya diriku, yang dahulu tidak ingin berteman dengan siapapun. Betapa pentingnya terbuka untuk orang lain. Dan betapa beruntungnya jika aku memiliki seorang teman. Stu-satunya dalam hidupku. Hanya Thiery. Tia kami berjalan keluar, bersenda gurau, beberapa pasang mata memperhatikan tingkah kami. Memandang jijik ke arahku dan mungkin memandang aku dan Thiey dua gadis gila yang tak tahu malu. Benar. Kuakui memang benar. Tapi, menurutku siapapun boleh menilaiku seperti apa. Baik, buruk itu bukan masalah. Karena aku sudah mempunyai satu orang yang mau menerima kondisiku apa adanya tanpa melihat betapa buruknya hidupku.
Hari itu, hujan kembali turun. Di depan teras rumah aku menunggu kedatangan Thiery. Sudah 5 hari ini aku tak pernah melihatnya mengunjungiku. Aku fikir pasti ada sesuatu yang terjadi padanya, hingga dia tidak memberitahukannya padaku. Samar-samar kudengar suara tangisan. Makin lama- suara itu makin terdengar jelas. Kuambil payungku, mencoba mencari arah suara itu. Dan ternyata benar. Aku melihatnya bersimpuh di tengah jalan raya yangkosong berpayung hujan dan derai airmata. Kacamatanya hancur tak bersisa. Aku menghampiri Thiery yang sedang menangis.
“Kau kenapa Their?” Aku memapahnya bangun. Thiery hanya terdiam membisu. Namun airmatanya tetap saja turun, semakin deras. Aku membawanya ke tempat kost dan mendudukkannya di kursi kecil di ruang tengah. Thiery terlihat sangat takut, sedih dan kalut. Tak pernah aku melihatnya menangis seperti itu.
“Apa yang terjadi denganmu Their? Ceritakan padaku!” Kemudian kubenahi letak dudukku hingga aku dan Tiery saling berhadapan. Kuusap lembut rambutnya yang basah itu. Tangannya terus mengepal, dan airmatanya semakin deras membuat diriku makin tak mengerti. Sesaat, Thiery memandang ke arahku menghentikan tangisnya kemudian menunduk dan kembali berderai airmata.
“Bicaralah Thiery, jangan membuatku bingung!” Aku menggoncangkan tubuhnya yang tak bergerak sama sekali. Tangannya yang mengepal kini menutupi wajahnya yang merah dan kuyu.
“Aku…”
“Iya, kamu kenapa Thiery? Katakan padaku, apa yang terjadi?”
“Sekarang aku sama seperti kamu Talia…” Tangisnya makin menjadi. Dan kalimatnya membuat aku bingung.
“Apa maksud kamu?”
“Apa yang kamu alami, sekarang juga menimpaku, Talia!” Suaranya meninggi. Kulihat airmatanya makin deras. Thiery berlari keluar meninggalkanku dengan seribu penyesalan. Kakiku lemas, tak mampu mengejar Thiery yang sudah berlari menembus hujan. Kusandarkan bahuku dengan kasar , dan bendungan di mataku tak mampu menahan kokohnya airmata yang kian deras mengalir. Hangat terasa di kedua pipiku. Aku tak mampu berkata apa-apa setelah apa yang diungkapkan Thiery, itu sudah membuatku jelas dan membuatku benar-benar makin menyesal.
Di trotoar jalan aku berjalan sendirian, tanpa arah dan utujuan. Kosong. Di pikiranku semuanya kosong, hilang dan tak berarti. Aku sudah membuat Thiery, satu-satunya sahabatku menderita. Rasanya aku tak kuat memikul ini sendirian. Sudah kering rasanya airmataku untuk menangisi keadaanku, keterpurukan dan sejuta penyesalan yang menghantuiku. Fokusku hanya ke satu arah. Seperti orang yang kehilangan keseimbangan, aku benar-benar seperti orang yang sudah putus asa.
Di sebuah jembatan kecil tak jauh dari situ, kulihat rintik hujan masih mengguyur aliran sungai di bawahnya. Membuatnya semakin mengeruh,seolah mengejek perasaanku saat itu.
Kulihat sekelilingku. Dan aku tahu, hanya aku seorang diri disini. Dan saat itulah, hatiku mulai terasa tercabik, saat Thiery benar-benar tidak ada disini. Badanku limbung, tak mampu menopang keseimbangan. Aku terjatuh bersimpuh disitu. Tanganku mengepal dan menyibak air hujan yang tidak juga berhenti.Tangisku semakin menjadi . Kujambak sendiri rambutku dan menangis sekencang-kencangnya. Yang ada hanya, angin menyahut dengan kencangnya. Aku merasakan ada yang menyentuh bahuku dari belakang.. Aku terkejut dan menoleh ke belakang. Ada cahaya kecil yang indah disana membuat hatiku menjadi lebih tenang dari sebelumnya.
“Talia…” Dia memelukku dengan erat dan kubalas pelukan Thiery sambil sesekali kami berpandangan penuh arti. Hujan kian deras, menjadi atap kami malam itu.
Aku dan Thiery sampai di tempat kost. Kami berdua terduduk di ruangan tengah yang cukup sempit sambil mengeringkan badan yang sudah terlanjur basah. Kupandangi wajah sahabatku itu, dia hanya tertunduk dan terdiam.
“Seharusnya kamu tidak kembali…” Kataku memecah keheningan malam itu. Thiery hanya tersenyum kecil. Masih ada sisa-sisa kesedihan terlihat di raut wajahnya.
“Ini mauku, Ta..” Jawabnya pendek.
“Maafin aku,Ri. Kalau saja kamu tidak pernah mengenalku, mungkin sekarang kamu akan baik-baik saja…” Sesalku. Wajahku kembali memerah menahan sesak dan menyeka airmata yang terlanjur jatuh setitik.
“Ini bukan salah kamu, Ta. Tak ada yang perlu dimaafkan. Aku sudah berkata padamu kesekian kalinya. Apapun yang terjadi, hal sepahit apapun itu aku akan tetap menjadi sahabat kamu, Ta. Aku Cuma merasa, aku belum bisa membuktikan apa-apa sama kamu, karena aku belum mendengar kamu mengucapkan kalau aku itu sahabat kamu, Ta. Dan aku akan tetep buktiin ke kamu dengan apa yang aku lakuin sekarang. Aku selalu menganggap kamu sahabat , sejak perknalan pertama kita. Dan aku Cuma berharap, suatu saat hati kamu benar-benar bisa terbuka, Ta. Kalau aku itu selalu tulus berteman dengan kamu…” Kalimatnya terhenti, kulihat bening matanya mulai kembali berkaca-kaca. Aku tak mampu berucap apapun saat itu. Karena aku benar-benar bingung.
Pagi yang hangat bersambut, kemudian matahari mulai meninggi hingga tepat berada di atas ubun-ubun, dan seketika itu pula senja mulai menyusul dan digantikan oleh petang yang kemudian berubah menjadi malam pekat, begitu setidaknya perjalanan hidupku bersama Thiery saat ini. Sejak Thiery divonis penyakit yang sama denganku, aku sudah tidak pernah lagi melihat senyum ketulusannya. Yang ada adalah sebuah senyuman hambar yang tiap hari kulihat kala dia menghiburku. Entah bagaimana awalnya, hingga Thiery yang tak berdosa ikut pula menanggung penderitaanku. Betapa bencinya Tuhan kepadaku, sehingga orang-orang yang kusayangi semuanya terluka. Aku merasa berdosa . Tidak pada keluargaku, namun pada Thiery.
“Ta, jalan-jalan yuk!” Ucap Thiery padaku di suatu pagi. Aku hanya memandang wajahnya lekat-lekat, Thiery masih sama seperti dulu. Dia benar-benar tabah seakan tidak memikul beban apapun. Thiery meraih tanganku dan memaksaku bangkit dari tempat dudukku. Aku mengikuti langkahnya dari belakang. Raut wajahnya masih menggambarkan bias kebahagiaan, namun rasanya hambar bagiku.
“Thiery…!” Aku menghentikan langkahku. Thiery berbalik dan menghampiriku hingga kami berdua saling berhadapan.
“Ya Talia?”
“Jangan buat aku merasa semakin berdosa padamu, Thiery. Sudah cukup aku seperti ini. Aku tak ingin senyum hambar yang kau buat-buat untuk menghiburku. Kau harus menanggung semua yang tidak kau lakukan. Lgian, sudah tahu kalau sakitku ini menular, kenapa kamu masih mau dekat-dekat denganku ? Dan sekarang jadinya seperti ini kan? Aku yang emrasa bersalah, aku yang berdosa, bukan kamu, Thiery…” Aku tertunduk, menahan semua gejolak yang makin meronta kuat disini. Perlahan, Thiery meraih tanganku dan berkata,
“Aku tidak pernah menyalahkan sahabatku. Ini hanya salah keadaan saja,Talia…” Aku menepis tangan Thiery.
“Kenapa sih kamu harus baik sama aku? Kenapa kamu harus berteman denganku? Padahal kau lebih pantas mendapatkan yang jauh lebih baik dari ini…” Suaraku yang kian meninggi, membuat dadaku sesak.
“Kamu ingin tahu apa jawabanku?” Aku mengangguk pelan.”Aku tidak tahu bagaimana awalnya. Namun, 15tahun lalu aku pernah bermimpi, memimpikan seorang perempuan. Dalam mimpi itu, aku dan perempuan itu tinggal di suatu tempat, jauh sekali dengan keramaian. Hanya ada dia dan aku. Aku pikir itu hanya bunga tidur yang tak berarti apa-apa. Tapi, tiap malam, aku merasa mimpi itu benar-benar menghantuiku, hingga terbawa di alam nyataku. Aku juga bisa ngerasain, kalau perempuan itu selalu ada sama aku dimanapun aku berada.Aku merasa aman, dengan keadaan diriku saat itu. Aku selalu menganggap dia itu nyata, bahkan aku mengajaknya bermain, bicara dan jalan-jalan. Hingga orangtuaku memasukkanku ke rumah sakit. Dan kata dokter, itu hanya sebuah penyakit halusinasi yang berlebihan karena tingkat stress tinggi atau ada factor lain. Namun setelah aku sembuh, aku kembali bertemu dengan perempuan itu. Dan aku tidak sedang bermimpi. Perempuan itu, adalah kau, Talia! Aku bahagia, kalau ternyata, kamu itu memang bener ada Talia. Kamu itu teman bayanganku yang dulu hilang Talia…” AKu memandangnya sejenak dan tertawa menanggapi cerita konyolnya.
“Jawaban yang konyol, Thiery! Kau tahu itu!”
“Memang benar, namun itu kenyataannya. Untuk itu, aku ingin kamu benar-benar menganggapku sebagai sahabat kamu Talia. Seperti aku selalu mengharapmu kalau suatu saat nanti kau akan bilang padaku kalau aku ini sahabatmu,Talia…” Thiery mengusap airmatanya yang jatuh. Dan kemudian berjalan meninggalkanku yang masih terpaku disitu. Tak lama Thiery menjauh, aku melihat tubuhnya roboh. Aku segera berlari menghampiri Thiery.
“Bangun Thiery kau kenapa?” Aku menggoncangkan tubuhnya dengan keras. Namun Thiery tak kenjung sadar. Aku menggendongnya, membawanya kembali ke rumah. Di tepi jembatan, Thiery tersadar dan menyuruhku untuk menurunkannya. Badannya masih lemas, bahkan tidak mampu berdiri. Thiery tergelatak di pelukanku dengan sadar dan berkata dengan lemah.
“Tadi pagi, aku sengaja menyuntikkan obat keras ke nadiku. Dan obat itu angat cepat bereaksi, Talia…”
“Apa yang kau lakuakan, kau bdodoh Thiery!!” Ucapku dengan kasar. Dia hanya tersenyum lemah .
“Apa yang kau lakuakan, kau bdodoh Thiery!!” Ucapku dengan kasar. Dia hanya tersenyum lemah .
“Iya, Talia aku bodoh. Tapi aku ingin semuanya segera berakhir. Aku tidak bisa menjalani ini lebih lama lagi, dan….” Kalimatnya terpotong, Thiery hanya menarik nafas dengan panjang dan tersengal-sengal. Tubuh Thiery mulai mengejang. Perlahan, nafasnya yang panjang mulai melemah, hingga tak terdengar lagi. Matanya tertutup rapat, dengan sebuah senyuman yang masih mengembang. Aku hanya terdiam melihat tubuh mungil tak bernyawa itu tidur di pelukanku.
“Dan…kamu sahabat terbaikku, Thiery…” Kulanjutkan potongan kalimat Thiery untuk yang terakhir kalinya. Aku merasa pipiku mulai hangat dibasahi arimata. Memandangnya lemah dengan rasa berdosa. Kugendong tubuh mungilnya yang sudah tak bernyawa itu , menyusuri tempat-tempat yang pernah kami datangi dulu. Mencoba mengulasnya satu persatu.
Kudapati diriku di sebuah ruangan gelap, pengap sendirian tanpa siapapun. Hanya ada bayangan Thiery disekitarku. Membuatku makin berodsa. Aku menekuk lututku dan kudekap tubuhku sendiri. Keringatku mengucur deras, seolah dosa itu membakar seluruh tubuhmu. Dan aku selalu berharap, tidak lama lagi aku keluar dari tempat ini, karena aku akan segera menyusulmu Thiery. Sesegera mungkin. Karena aku tak ingin hidup sendiri lagi tanpa seorang sahabat.







